Sulaeman Banten’s

Mei 17, 2008

Siapapun Presidennya, Mendiknas atau Walikotanya harus Wahidin Halim…

Diarsipkan di bawah: Pendidikan — sulaemanbanten @ 9:14 am

Perjalanan konsep akhlakul kharimah telah mengukir sejarah baru bagi perkembangan dan peradaban umat manusia di bumi Tangerang, kisah lama tentang kebebasan berpakaian bersikap dan beradap barat harus dikembalikan ke alam sadar, bahwa aurat adalah sesuatu yang harus ditutupi dan dilindungi tidak boleh dilihat apalagi dicicipi kecuali suami istri. Kebejatan moral generasi di negeri ini bukan lagi sesuatu yang wajar, pelecehan seksual, dekadensi moral dan kebejatan tingkah laku pelajar yang kurang ajar.

Semua itu berhasil dibenahi dan di tangkal di Kota Tangerang sebagai kota yang berlandaskan Palsafah Pancasila dan UUD 1945, kota yang menjamin kebebasan hidup beragama, kota yang saling menghormati dan menghargai perbedaan suku, ras, golongan dan berbagai perbedaan dengan kultur budaya majemuk penduduknya tetapi….dengan Profesionalisme yang dilakukan oleh WH sebagai putra daerah yang sadar akan tantangan kemajuan daerahnya berhasil disulap dengan Cahaya Akhlakul Kharimah.

Isyu Pimpinan Nasional kembali bergema, kancah politik pemilu presiden tinggal beberapa saat lagi, partai baru dan partai lama yang telah ditringgalkan pengikutnya kembali berkampanye untuk menark simpati rakyat bendera-bendera partai kembali dikibarkan….. tetapi di Kota Tangerang Pemilu dan Pemilihan Presiden tidak menjadi bahan pertimbangan dan bahan perbincangan, Pilkada Kota Tangerang justru menjadi harga mati bagi kemenangan pasangan Wahidin Halim yang banyak didukung oleh kalangan birokrat, teknorat dan rakrat sehingga belum lama ini PGRI sebagai wadah Persatuan Guru di Kota Tangerang kembali mendeklarasikan kebulatan tekad dan kebulatan suaranya pada Pilkada Kota Tangerang untuk memilih dan mengusung Wahidin Halim, bahkan tidak tanggung-tanggung Wahidin Halim didukung untuk menjadi Walikota Tangerang atau Mendiknas, karena bagi PGRI WH telah berhasil mengukir sejarah kemajuan perkembangan dan perubahan yang sangat signifikan bagi kemajuan pendidikan di Kota tangerang.

Satya Lencana Pelayanan Publik terbaik tingkat Nasional berhasil di raih oleh Wahidin Halim dan Kota Pelopor Pendidikan tingkat Nasional berhasil diraih serta keberanian untuk melewati batas minimal Anggaran Pendidikan seperti yanmg tertuang pada UUD 1945 bahwa Anggaran Pendidikan 20% berhasil dilampaui hingga 46,2% tunggu apalagi, Wali Kota yang bagaimana yang akan kita pilih ? WH adalah Walikota yang berhasil mengangkat derajat manusia melalui pendidikan dengan di bangunnya sekolah-sekolah bertingkat sebanyak 221, WH juga manusia yang berhasil memanusiakan guru dengan diberikannya Insentif bagi PNS dan Tenaga Honorer sebesar Rp. 1.000.000.- bagi kalangan pendidik, hal ini adalah angin segar yang berhasil menghilangkan kepanasan bekerja bagi guru dan setitik air jernih yang menghilangkan kehausan bagi penunggu peneguk minuman halal.

Mei 16, 2008

Sertifikasi guru setitik air di tengah oase kehidupan pendidik…

Diarsipkan di bawah: Pendidikan — sulaemanbanten @ 12:15 pm

Di tengah hiruk pikuk kehidupan anak manusia mengejar materi, harkat, pangkat dan derajat, guru menjadi pilihan profesi nomor tiga di pilihan jurusan dan pilihan kuliah bagi anak negeri yang sudah enam puluh tiga tahun merdeka dan bebas dari penjajahan ini.

Ketika ada seorang siswa kelas tiga SMA ditanya oleh kedua orangtuanya yang pekerjaannya sebagai guru ” nak,kalau kamu lulus UAN SMA nanti kamu mau melanjutkan kemana ?

Si anak yang dibesarkan dari hasil jerih payah,hutang pinjam dan banting tulang mengajar bapaknya menjawab ” Mau masuk fakultas kedokteran.” katanya tanpa menoleh pada orangtuanya yang guru.

” Kalau Kedokteran nggak lulus?” tanya sang ayah

”Masuk fakultas ekonomi, terus ke fakultas informatika kalau semuanya nggak lulus baru saya masuk UPI Bandung atau UNJ Jakarta atau FKIP Untirta Banten” Jawab sang anak ketus.

Dialog di atas menggambarkan betapa profesi guru menjadi pilihan ketiga bahkan keempat setiap anak manusia di negeri ini sehingga tidak mengherankan jika kompetensi guru masih dipertanyakan bahkan banyak diragukan dan disepelekan oleh sebagian orang, wajar jika mahasiswa Keguruan adalah mahasiswa buangan (istilah kasarnya…maaf) tetapi demokrat, politikus, negarawan, ulama, kiayi bahkan penjahat dan koruptor kelas kakap adalah hasil didikan bapak dan ibu guru yang selama ini masih disepelekan. Sadarkah orang-orang besar di negeri ini kalau mereka dulunya adalah seorang anak kecil yang tidak bisa membaca dan menulis, bahkan mereka belum dapat mengerti harus buang air besar dan buang air kecil dimana ? sehingga banyak diantara mereka berak dan kencing di celana.

Hello world!

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — sulaemanbanten @ 11:35 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog pada WordPress.com.